penuntutan…

Bolehkah Menuntut Anak ?
pelajaran pertama dan mungkin terpenting dalam mengendarai sepeda ialah bagaimana menjaga keseimbangan tubuh kita diatas batang-batang besi beroda dua itu. Saya kira membesarkan anak dapat diibaratkan dengan mengendarai sepeda. Banyak unsur dalam membesarkan anak yang harus ada secara berimbang : “terlalu banyak” atau “terlalu sedikit” biasanya mengakibatkan dampak yang sama-sama negatifnya. Misalnya terlalu sayang dan terlalu protektif dapat membuat anak lemah serta kurang percaya diri. Sebaliknya kurang kasih sayang bisa juga menjadikan anak lemah dan tidak mempunyai keyakinan diri. Demikian pula tuntutan. Terlalu banyak tuntutan membuat anak tertekan, sebaliknya terlalu sedikit tuntutan menjadikan anak terlena.
Saya tidak setuju dengan falsafah pendidikan anak yang menghilangkan segi tuntutan secara total. Tuntutan merangsang pertumbuhan; tanpa tuntutan, anak berkembang bebas tanpa arah dan berhenti bertumbuh. Tuntutan juga bermetafosis dalam diri anak menjadi motivasi dan disiplin yang sangat berfaedah bagi kehidupannya kelak. Namun tuntutan perlu diberikan dengan hati-hati agar berkhasiat maksimal. Secara spesifik, tuntutan hanya akan efektif bagi pertumbuhan anak bila diiringi oleh unsur atau kondisi tertentu. Bak menanam padi, kita harus menggemburkan tanah dan mengalirkan air dengan teratur. Benih padi sebaik apapun tidak akan tumbuh di tanah yang tandus. Di bawah ini akan saya paparkan empat prinsip yang harus ada bersama dengan tuntutan agar tuntutan bisa mencapai hasil yang optimal.
Pertama, harus ada kasih dan penerimaan penuh. Sebelum tuntutan diberikan, anak perlu mengetahui dan merasakan cinta kasih orang tua yang menerimanya secara total. Maksudnya, anak selayaknyalah memiliki keyakinan bahwa ia tetap dikasihi orang tua meski ia belum tentu mampu meraih standar orang tua. Tanpa keraguan anak dapat berkata bahwa cinta kasih orang tua terhadapnya tidak tergantung apakah ia mendapat nilai 9 atau 5. Sebelum menerima tuntutan, anak perlu menyadari bahwa orang tua telah menerimanya apa adanya atas dasar satu alasan: sebab ia adalah anak yang mereka kasihi.
Sebaliknya tuntutan yang diberikan tanpa landasan kasih dan penerimaan penuh akan jatuh bagaikan duri yang menusuk kalbu. Tanpa kehadiran kasih dan penerimaan, anak akan cenderung mengaitkan perfoma dengan kasih orang tua. Maksudnya anak akan berpikir bahwa ia hanya akan dikasihi apabila ia berhasil. Memenuhi tuntutan orang tua, misalnya meraih nilai yang bagus. Juga, tanpa adanya penerimaan dari orang tua, tuntutan akan menjadi dingin dan kehilangan unsur kemanusiaan sehingga tidak jarang anak akhirnya merespons tuntutan seperti itu dengan penuh kebencian. Anak seolah-olah berseru, ?Engkau tak berhak menuntut apapun dariku karena engkau tidak mengasihiku!?
Tuntutan yang didahului kasih dan penerimaan akan dapat memotivasi anak berprestasi. Tuntutan mendorongnya bekerja lebih keras dan ia akan dapat melakukannya dengan tenang karena ia tahu bahwa ia dikasihi. Anak sadar bahwa keberhasilannya mencapai tuntutan itu akan menyenangkan hati orang tua, bukan untuk mendapatkan kasih orang tua.
Kedua, harus ada target yang spesifik. Tuntutan yang efektif adalah tuntutan yang berorientasi pada target tertentu. Tidak jarang orang tua melakukan kesalahan yang umum terjadi yakni menuntut anak menjadi ?lebih baik, lebih rajin, lebih pintar, berprestasi lebih tinggi,? dan lain sebagainya. Tuntutan dengan target yang terlalu luas akan membuat anak hilang arah dalam mengejar sasarannya. Ia perlu mengerti apa itu yang dituntut orang tua dengan jelas agar ia tahu apa itu yang harus dilakukannya.

Mungkin ada diantara kita yang berkata, bukankah target menjadi rajin adalah target yang cukup spesifik dan tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut? Saya akan memberikan contoh yang berkenaaan dengan kehidupan orang dewasa. Pernahkah kita diminta atasan menjadi ?lebih giat? bekerja dan kita menjadi bingung dengan permintaannya itu? Kita bingung sebab kita sudah merasa bekerja sebaik-baiknya dan kita tidak tahu lagi apa yang harus kita kerjakan untuk memenuhi target tersebut. Namun kita akan dapat memahami tuntutan itu dengan lebih jelas apabila atasan meminta kita menjual produk dua kali lebih banyak, atau menambah jumlah pelanggan tiga kali lipat.

Anak akan lebih dapat memahami tuntutan orang tua apabila tuntutan itu dijabarkan sespesifik mungkin. Daripada berkata,?lebih rajin dan lebih pintar? mungkin lebih baik kita memintanya menambah jam belajar atau menyelesaikan tugas sekolahnya sebelum bermain. Daripada menuntutnya ?berprestasi lebih tinggi,? kita bisa menyebut pelajaran tertentu yang mendapat nilai rendah dan memintanya menghabiskan waktu belajar lebih banyak untuk bidang tersebut. Kita bisa menargetkan supaya pada ulangan berikutnya ia mencoba meraih nilai 7. Saya kira anak akan lebih mampu mencapai hasil yang kita inginkan bila ia tahu jelas apa itu yang harus ia lakukan.
Ketiga, harus realistik dan sepadan dengan kemampuannya. Untuk memacu prestasi anak, tuntutan yang diberikan seyogianya sedikit diatas kemampuan anak. Tuntutan yang dibawah atau pas dengan kemampuan anak tidak akan memacunya karena ia tidak perlu berusaha keras memajukan dirinya. Sebaliknya, tuntutan yang jauh melampaui kemampuan anak akan mengecilkan semangatnya. Anak mesti melihat bahwa tuntutan yang diberikan kepadanya masih dalam batas kemampuannya. Jika tidak ia justru tidak akan berkemauan untuk menggapainya.
Saya sering melihat ada dua kesalahan yang umum dilakukan oleh orang tua. Pertama orang tua menuntut anak menjadi seperti dirinya dan kedua, orang tua menuntut anak menjadi pelengkap kekurangannya. Kesalahan pertama acap diperbuat oleh orang tua yang bisa bermain piano dan cenderung menuntut anak bermain piano pula. Masalahnya adalah, tidak selalu anak mewarisi bakat orang tua dan tidak semua anak yang mempunyai minat yang sama dengan orang tuanya. Kalaupun anak menyukai piano, itupun tidak berarti bahwa ia akan dapat bermain sebaik orang tua. Adakalanya orang tua menuntut anak untuk menjadi semahir dirinya. Sekali lagi problemnya ialah, anak belum tentu memiliki tingkat kepandaian yang sama dengan orang tua.
Kesalahan kedua acap terjadi pada orang tua yang merasa diri kurang atau ada cacatnya. Anak akhirnya menjadi penyambung kekurangannya agar keinginannya yang belum tercapai bisa diwujudkan oleh anak. Misalnya jika orang tua berangan-angan menjadi atlet nasional, iapun akan memaksa anak menjadi atlet nasional. Masalahnya adalah, belum tentu anak mempunyai kemampuan untuk itu. Jadi yang penting ialah memahami kemampuan dan minatnya. Tuntutanyang efektif adalah tuntutan yang realistik; tuntutan yang tidak realistik justru akan menciptakan frustasi pada diri anak.
Keempat, harus memberi ruangan untuk gagal. Pada dasarnya kita adalah orang yang sulit menoleransi kegagalan karena kegagalan dengan mudah dapat membangkitkan perasaan-perasaan masa lalu kita yang pahit. Kegagalan cenderung mengingatkan kita akan kekurangan-kekurangan yang telah kita coba perbaiki dengan susah payah. Kegagalan anak sering kali mempengaruhi penghargaan diri dan konsep diri orang tua. Kegagalan anak seakan mencoreng konsep dan penghargaan diri yang sebelumnya dimiliki orang tua. Itulah sebabnya tidak mudah bagi orang tua menerima kegagalan anak. Kegagalan mengecewakan hati orang tua karena anak tidak dapat memenuhi tuntutan atau harapannya.
Tuntutan bukanlah dan tidak seharusnya menjadi standar ketidaksempurnaan karena anak bukanlah anak yang sempurna. Jadi anakpun mesti diberi kemungkinan untuk gagal dalam upayanya memenuhi tuntutan orang tua. Kerelaaan orang tua untuk menerima kegagalan anak akan membuatnya rileks dan sikap rileks ini justru akan membuatnya lebih kreatif. Anak akan dapat mengupayakan prestasinya secara lebih tenang karena tidak dikejar-kejar oleh rasa takut gagal. Anak perlu menyadari bahwa kegagalan adalah bagian dan konsekuensi dari hidup serta yang penting adalah bagaimana menerima dan mengoreksi diri, bukan menyangkali atau menyesali diri tanpa kesudahan. Anak harus mengetahui bahwa yang terpenting adalah usahanya, bukan hasil akhirnya dan bahwa selama ia telah berusaha sebaik mungkin, kegagalan akan diterima dengan lapang dada oleh orang tuanya.

Kesimpulan
Tuntutan perlu diberikan setelah keempat hal ini kita jalankan. Tanpa kehadiran keempat faktor ini, tuntutan akan menjadi cambuk belaka; membuat anak maju selangkah, namun mengutuki setiap cambuk yang diterimanya. Sebaliknya, keberadaan keempat hal ini akan membuat tuntutan sebagai tangan yang menuntun anak maju selangkah demi selangkah. Saya kira anak akan jauh lebih menyukai tangan daripada cambuk.

hindari

Sering secara tidak disadari, beberapa orang tua melakukan kesalahan dalam mendidik anak mereka. Apa yang akan terjadi jika anak dibesarkan dalam kondisi yang dipenuhi dengan kekerasan? Tentu, ia akan mengadopsi cara-cara yang sering ia lihat ke dalam kehidupannya kelak. Meski tak selalu, lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak selanjutnya, termasuk bagaimana orang tua mendidik mereka.

Anak yang dibesarkan dalam situasi keluarga yang nyaman tentu berbeda dengan anak yang selalu diberi hukuman fisik oleh orang tuanya. Sayangnya, tak sedikit orang tua yang tidak tahu bagaimana cara memberikan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan optimal anak. Akibatnya, anak pun tumbuh tidak sebagaimana yang diharapkan.

Nah, berikut ini adalah 10 hal yang harus dihindari dalam mendidik anak:

1. Terlalu lemah
Misalnya, selalu memenuhi semua permintaan anak. Anak tidak diajar untuk mengenal hak dan kewajiban. Akibatnya, anak menjadi terlalu penuntut, impulsif (gampang melakukan tindakan tanpa perhitungan), egois, dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain.

2. Terlalu menekan
Misalnya, orang tua terlalu mengatur dan mengarahkan anak, tanpa memperhatikan hak anak untuk menentukan keinginannya sendiri, atau untuk mengembangkan minat dan kegiatan yang ia inginkan. Akibatnya, anak akan menjadi lamban, selalu bekerja sesuai perintah, tidak memiliki pendirian, dan suka melawan.

3. Perfeksionis
Orang tua menuntut anak untuk menunjukkan kematangan sikap atau target tertentu yang umumnya melebihi kemampuan yang wajarnya dimiliki anak. Akibatnya, anak akan terobsesi untuk meraih prestasi yang diharapkan orang tuanya. Ia juga akan menjadi terlalu keras dan kritis terhadap dirinya sendiri.

4. Tidak memberi perhatian
Orang tua hanya menyediakan sedikit waktu untuk memperhatikan setiap perkembangan anak, atau membantu anak menempuh tahap demi tahap perkembangannya. Akibatnya, anak tak mampu membina hubungan dengan lingkungannya dan akan tumbuh menjadi anak yang impulsif.

5. Terlalu cemas akan kesehatannya
Orang tua terlalu berlebihan mencemaskan kondisi fisik anak. Padahal, secara obyektif, anak sehat. Sakit sedikit saja, orang tua cemasnya minta ampun. Akibatnya, anak akan mudah merasa tak sehat dan ikut merasakan kecemasan yang sama. Enggan bermain, takut jatuh, dan sebagainya.

6. Terlalu memanjakan
Misalnya, terus-menerus menghujani anak dengan barang-barang mahal atau memberikan pelayanan istimewa, tanpa mempertimbangkan apa yang sesungguhnya dibutuhkan anak. Akibatnya, anak bisa menjadi anak yang gampang bosan, kurang inisiatif, dan tak memiliki daya juang.

7. Tidak pernah memberi kepercayaan
Orang tua selalu meramalkan kesalahan yang belum tentu dilakukan anak. Orang tua juga selalu mengkritik anak, bahkan untuk hal-hal yang seharusnya tak perlu kritikan. “Kamu, sih, nanti kalau jatuh, bagaimana?” Akibatnya, anak akan menjadi seorang yang pesimis, rendah diri, dan cenderung mengembangkan hal-hal yang selalu dilarang orang tua.

8. Menolak kehadiran anak
Misalnya, jenis kelamin anak tak sesuai dengan harapan orang tua, sehingga orang tua cenderung menolak menjadikan anak sebagai bagian dari keluarga. Akibatnya, semua tindakan yang dilakukan orang tua selalu merugikan anak. Anak bisa rendah diri dan menunjukkan sikap bermusuhan terhadap orang tua.

9. Suka menghukum
Orang tua bersikap agresif terhadap kesalahan-kesalahan yang dilakukan anak, dan cenderung memilih memberikan hukuman fisik dengan alasan mengajarkan disiplin. Bisa-bisa anak akan menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang wajar dilakukan dan akan melakukan hal yang sama terhadap keluarganya kelak.

10. Suka menggoda
Orang tua cenderung melecehkan keberadaan anak dengan sering mengolok-olok dan mengungkapkan kekurangan anak di depan orang banyak. Akibatnya, anak akan merasa tidak dihargai dan rendah diri.

dan masih banyak lagi,,,silahkan anda mencari untuk pemahaman anda semua,,thank ya,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s