Belajar dari pengalaman, belajar dari apa yang ada di sekitar kita.

Jangan Boros tetapi juga Jangan Kikir
Masih nyambung dengan tulisan sebelumnya tentang mubazir. Membelanjakan harta secara berlebihan juga bisa dikatakan mubazir. Akan tetapi, Allah juga melarang kita bersifat kikir. Kikir dan mubazir adalah dua sifat yang berlebihan, dan Allah tidak menyukai segala sesuatu yang berlebihan. Untuk itu, belanjakan harta secara proporsional, tidak boros tetapi juga tidak kikir, serta jangan lupa berinfak di jalanNya. Allah berfirman, “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah [2] : 195)

Allah SWT memberi petunjuk kepada kita berkaitan dengan membelanjakan kekayaan harta, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir tetapi adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Baqarah [2] : 67) Nabi SAW bersabda, “Hai anak Adam, sesungguhnya jika engkau memberikan kelebihan untuk berinfak adalah lebih baik bagimu. Dan jika engkau kikir adalah lebih buruk bagimu. Dan janganlah kamu boros terhadap kekayaanmu. Dan bantulah kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Dan tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (HR. Muslim, Turmudzi).

PERINGATAN KERAS BAGI ORANG YANG KIKIR

Kikir atau dalam bahasa lain disebut pelit merupakan penyakit hati yang harus segera diobati, karena tidak ada yang memerintahkan kita untuk kikir atau pelit melainkan datang nya dari syetan yang terkutuk. Pelit atau kikir bukan kehendak manusia yang berharta bukan pula watak dasar manusia melainkan pelit adalah salah satu jalan yang digunakan oleh syetan untuk menyesatkan manusia sebanyak-banyaknya yang mana manusia yang berhasil dipengarugi oleh syetan dan menjadi kikir, maka manusia tersebut akan masuk neraka untuk menemani syetan yang sudah jelas bahwa nanti syetan akan berada di neraka. Dengan pelit sebagian orang menyakini akan mudah menjadi kaya, padahal sebenarnya pelit hanya akan mengurangi berkah dari harta yang mereka miliki dan belum pasti orang yang pelit bisa menjadi orang yang kaya. Karena sejatinya pelit merupakan sumber pokok kedengkian dan kemiskinan baik secara jasmani maupun secara rohani. Semoga Allah menjauhkan diri saya anda berserta semua keluarga anda dari sifat dan sikap yang kikir.

Kikir atau pelit merupakan api yang yang dinyalakan oleh syetan kedalam hati orang-orang yang kaya atau memiliki harta yang melimpah, namun tidak menutup kemungkinan ada pula orang yang miskin namun punya sikap dan sifat yang kikir. Dalam kitab Al qu’ran banyak yang memperingatkan dengan sangat keras agar kita jangan kikir atau pelit, Karena orang yang memiliki sifat dan sikap tersebut tidak akan mendapatkan keberuntungan di akhirat kelak. Sebagaimana tertulis di dalam firman-Nya :

” Dan orang-orang yang Telah menempati kota Madinah dan Telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung” ( Q.S. Al Hasyr : 9 )

Dalam firman-Nya yang lain juga di sebutkan ;

” Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( Q.S Al Imron : 180 )

Serta masih banyak lagi ayat-ayat yang sangat melarang kita untuk kikir atau pelit. Padahal gaya hidup orang yang kikir itulah yang menyebabkan kemarahan Allah terhadap manusia , hingga orang yang tak bersalahpun merasakan akibat dari kemarahan Allah. Seperti dengan datangnya musibah bencana alam maupun bencana-bencana yang lainnya yang merupakan wujud nyata dari kemarahan Allah terhadap manusia yang selalu melanggar perintah-Nya.

Sabda Rasullulah Muhammad S.A.W ;

“ Dermawan ialah pohon yang tumbuh di surga ( sebagai kunci untuk masuk surga ) ,maka dari itu tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang dermawan. Dan pelit adalah pohon yang tumbuh di neraka, maka tidak akan masuk neraka melainkan orang-orang yang pelit “

Dermawan merupakan kunci kesuksesan dan pelit adalah awal dari kehancuran. Dua hal ini memang sangat sulit diterima oleh akal yang hanya mementingkan dunia saja, namun bagi orang yang beriman sesungguhnya hanya dengan menjadi orang yang dermawan lah kita benar-benar bisa menjadi orang yang kaya, baik di dunia maupun di akhirat .

Jangan menghitung-hitung

Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudara dan Adik-adikku yang insya
Allah dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kalau kita bersedekah, berinfak, sodaqoh dan lain-lainya niatkan
Lillaahi Ta’ala dan jangan dihitung-hitung jumlah yang sudah
diinfakkan atau yang akan / sudah disodaqohkan atau diinfakkan dan
jangan kikir, ingatlah Saudaraku, bahwa di hari Yaumul Kiamat nanti,
dihari yang tiada naungan kecuali naungan dari Allah SWT, bila kita
menghitung-hitung sodaqoh kita, nanti Allah SWT juga akan menghitung
pemberian-Nya kepada kita, jika kita pelit, kikir, Allah SWT di
Yaumul kiamat nanti juga akan kikir terhadap kita, nah dengan siapa
lagi kita berlindung di hari yang tiada lindungan lagi kecuali Allah
SWT.

Marilah kita baca Hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim
dibawah ini yang artinya:

Dari Asma’ binti Abu bakar r.a. katanya Rasulullah SAW bersabda:
“Bersedekahlah kamu dan jangan menghitung-hitung, karena Allah akan
mengitung-hitung pula pemberian-Nya kepadamu, dan jangan kikir karena
Allah SWT akan kikir pula kepadamu.” HR.Muslim no.986

Dari Asma’ binti Abu Bakar as Siddiq r.a. katanya dia mendatangi Nabi
SAW lalu dia bertanya: “Ya, Nabi Allah! Aku tidak punya apa-apa untuk
disedekahkan selain yang diberikan Zuber (suamiku) kepadaku (untuk
belanja rumah tangga). Berdosakah aku apabila uang belanja itu
kusedekahkan ala kadarnya? Jawab Nabi SAW, “Sedekahkanlah ala
kadarnya sesuai dengan kemampuanmu, dan jangan menghitung-hitung,
karena Allah SAW juga akan menghitung-hitung pula pemberian-Nya
kepadamu, dan akan kikir kepadamu.” HR.Muslim 987.

Dari 2 hadits tersebut diatas kita ambil kesimpulan, bahwa berapapun
uang yang kita sodaqohkan itu pada hakikatnya adalah untuk kita
sendiri, semakin banyak disodaqohkan semakain banyak uang kita, atau
tabungan kita di Yaumul Hisab nanti, atau makin banyak Rahmat dan
berkah yang kita dapat dari Allah SWT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s