BUNDA

– Jiwa ini tersayat lebar oleh kerinduan padamu.

Bunda, peluk dan kecupmu akan merinai slalu dalam mimpiku…

Dia mengandung sembilan bulan lamanya. Penuh dengan pengorbanan jiwa dan raga untuk melahirkan kita. Tak harapkan balas budi hanya untuk membesarkan kita. Tak peduli panas dingin yang mendera hanya untuk melindungi kita. Tetesan berjuta darah mengalir dan rintihan pilu hanya untuk menyelamatkan nyawa kita. Tersenyum bahagia melihat kita menangis terisak-isak melihat dunia dan berkata, “Bayiku selamat, terima kasih Tuhan.”

Setelah kita dewasa, dia menangis pilu melihat tingkah kita. Sedih dan gundah menyaksikan perlakuan kita padanya. Walaupun hati sakit, tapi dia tetap tegar dan selalu mengulurkan tangannya yang hangat untuk kita. Setiap malam dia terbangun, meneteskan air mata kesedihan dan memohon pada Tuhan, “ Ya Allah, ampunilah dosa anakku, lindungilah dia setiap pijakan di bumi ini, jauhkanlah dia dari setiap perbuatan yang Engkau murkai. Amin…” Rutinitas yang dia lakukan tanpa lelah.

Setiap pagi dia selalu menyiapkan kebutuhan kita. Bangun terlampau pagi ketika orang-orang terlelap. Bekerja penuh keikhlasan hanya untuk membuat kita bahagia. Ketika dia meminta bantuan pada kita, karena usianya tlah renta dan keriput halus diwajah mulai tampak, apakah jawaban kita, “Ah..nanti dulu, lagi asyik nih nonton TV, ah..males ah.., lagi sibuk nih!” Tapi dia tak keberatan dan dengan sangat hati-hati dia kerjakan semuanya.

Suatu hari, dia terbaring lemah tak berdaya, mulutnya serasa memanjatkan doa, air matanya membasahi pelupuk mata, dan memandang samar-samar sekeliling. Saat itu dia merasa kesepian, merasa diacuhkan, merasa dicampakan. Buah hatinya menghilang dari gengamannya. Hanya satu keinginannya, ketika usianya menapak jauh, tua renta terkulai lemas, hanya ingin satu saja.. buah hatinya menemaninya, menepis sepi yang menyelimuti. Hingga hari itu datang, dia tak kuasa menahan rasa sakit dalam tubuhnya, seberkas cahaya merenggut jiwa dan raga ini melepaskan dengan ikhlas, serta mata terkatup untuk selama-lamanya.

“ Bunda… “,jerit kita menyaksikan pemandangan yang sangat memilukan dan menyayat hati. Terlambat! Dia sudah jauh meninggalkan dunia, terbang menjauhi cakrawala, hilang dari pandangan. Hanya isak tangis yang terdengar. Penyesalan tiada guna.

Manakah kasih sayang kita padanya? Manakah rasa terima kasih kita padanya? Walaupun dia tak meminta itu semua dari kita, walaupun harta kita di dunia tak dapat menggantikannya, sempatkanlah waktumu untuk menemaninya. Dengan meluangkan waktu kita bersama bunda kita tercinta, dia sudah sangat bahagia. Dia sangat bahagia melihat kita tumbuh besar, berbakti pada orang tua, dan menjadi anak yang sholeh.

Teman-temanku, bunda kita, ibu kita, mama kita, emak kita hanya satu di dunia ini, janganlah kalian sia-siakan dia, jangan sampai kita terlambat untuk mengakui hanya dia dihati kita setelah Tuhan, jika hal itu terjadi hanya tangisan penyesalan yang menyelimuti. Sekarang, berlarilah dalam pelukan bunda, dan ucapkan, “Aku sayang bunda, terima kasih atas semua kasih sayang dan pengorbanan bunda selama ini.” Minta maaflah atas semua kesalahanmu selama ini, entah itu kita bandel, keras kepala jika bunda kita menasehati, menganggap remeh bunda, dan semua macam kesalahan kita.

(Aku menangis ketika menulis semua kata-kata yang tertuang dalam tulisan ini. Karena aku sangat rindu, mamaku yang jauh di sana. Rindu akan kasih sayangnya, rindu akan nasehatnya, rindu akan belaiannya…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s