CHARACTER BUILDING MEMBENTUK KEPRIBADIAN MELALUI INTERAKSI SOSIAL

TUGAS PRESENTASI MAKALAH

MATA KULIAH CHARACTER BUILDING

MEMBENTUK KEPRIBADIAN MELALUI INTERAKSI SOSIAL

Jurusan Manajemen Informatika

KATA PENGANTAR

Puji syukur yang dalam kami sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha Pemurah, karena berkat kemurahanNya kami dapat menyelesaikan makalah “MEMBENTUK KEPRIBADIAN MELALUI INTERAKSI SOSIAL “ ini sesuai dengan harapan.

Makalah ini dibuat dalam rangka mengenali kepribadian individu lain melalui proses interaksi sosial

Kami menyadari sepenuhnya akan kemampuan yang masih terbatas, sehingga masih banyak kekurangan yang terdapat dalam makalah ini dan hasilnya belum dapat dikatakan sempurna. Oleh karena itu, masukan, kritik dan saran yang sifatnya membangun kami nantikan dalam rangka kesempurnaan makalah ini.

Dalam proses pendalaman materi pembuatan makalah ini, tentunya kami mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan saran, untuk itu rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kami sampaikan kepada :

  • Bpk.Bambang S.Kom selaku dosen mata kuliah “ character Building ”.
  • Rekan-rekan mahasiwa yang telah banyak memberikan masukan untuk makalah ini.

  • Ayah dan Ibu yang selalu memberikan semangat dan memberi fasilitas dan semangat belajar dalam pembuatan makalah ini.

Demikian makalah ini kami buat semoga bermanfaat bagi kita semua. Kami berharap makalah MEMBENTUK KEPRIBADIAN MELALUI INTERAKSI SOSIAL ini dapat dijadikan sarana dapat mengenali kepriadian individu lain secara tepat dengan segala keunikannya

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………………. i

DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………………….. ii

BAB I PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG …………………………………………………………….. 1
  2. TUJAN DAN MANFAAT ………………………………………………………. 2
  3. METODE dan PROSEDUR 2

BAB II DASAR PERMASALAHAN

  1. Kepribadian 3

A.I. Tipe-Tipe Kepribadian 3

A.II. Faktor – faktor yang mempengaruhi kepribadian 4

B. Interaksi Sosial 6

B.I. Macam Macam Interaksi Sosial 8

B.II. Ciri-ciri Interaksi sosial 9

BIII. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial 9

BAB III PEMBAHASAN

A. Membentuk Kepribadian Melalui Interaksi Sosial 12

B. Proses Pembentukan Kepribadian Melalui Interaksi Sosial 13

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

    1. KESIMPULAN……………………………………………………………………… 20
    2. SARAN………………………………………………………………………………… 20

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Telah menjadi rahasia umum bahwa manusia adalah mahluk yang unik. Munculnya anggapan seperti itu karena berdasarkan suatu realita, bahwa tidak ada manusia yang memiliki kepribadian yang sama. Sehingga hal itulah yang kadang-kadang menimbulkan kesulitan untuk mengerti kepribadian seseorang. Namun jika ditelusuri lebih jauh bagaimana sesungguhnya pembentukan kepribadian seseorang, maka hal itu bukanlah merupakan sesuatu yang aneh.

Pembentukan kepribadian seseorang dapat dibentuk melalui interaksi sosial Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi. Ada aksi dan ada reaksi. Pelakunya lebih dari satu. Individu vs individu. Individu vs kelompok. Kelompok vs kelompok dll. Contoh guru mengajar merupakan contoh interaksi sosial antara individu dengan kelompok. Interaksi sosial memerlukan syarat yaitu Kontak Sosial ( terjadinya hubungan, sambungan atau sentuhan sosial antara dua orang atau lebih ) dan Komunikasi Sosial ( proses penyampaian pesan atau informasi dari satu pihak komunikator ke pihak lain komunikan dengan menggunakan symbol berupa kata-kata, suara, gerak isyarat, benda, dsb. )

B. TUJUAN DAN MANFAAT

1. Tujuan

  1. Tujuan dari penulisan ini guna melengkapi dan memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh nilai tugas mata kuliah Character Building

  2. Dengan dibuatnya makalah ini dapat membantu kita dalam memahami kepribadian individu lain dengan baik
  3. Belajar membuat makalah tentang MEMBENTUK KEPRIBADIAN MELALUI INTERAKSI SOSIAL

2. Manfaat

  1. Dengan makalah ini diharapkan kita mampu membentuk kepribadian yang lebih baik
  2. Mengetahui kepribadian individu lain dengan baik dengan melalui interaksi social

C. METODE dan PROSEDUR

Metode yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah ini yaitu dengan mengumpulkan informasi dari berbagai situs di internet.

BAB II

DASAR PEMIKIRAN

A. Kepribadian

Kata “kepribadian” (personality) sesungguhnya berasal dari kata latin: “pesona”. Pada mulanya kata persona ini menunjuk pada topeng yang biasa digunakan oleh pemain sandiwara di zaman romawi dalam memainkan perannya. Lambat laun, kata persona (personality) berubah menjadi satu istilah yang mengacu pada gambaran sosial tertentu yang diterima oleh individu dari kelompok masyarakat, kemudian individu tersebut diharapkan bertingkah laku berdasarkan atau sesuai dengan gambaran sosial yang diterimanya.

Kepribadian (Allport, 1971) adalah organisasi-organisasi dinamis dari sistem-sistem psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik/khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Karena tiap-tiap kepribadian adalah unik, maka sukar sekali dibuat gambaran yang umum tentang kepribadian. Yang dapat kita lakukan adalah mencoba mengenal seseorang dengan melalui interaksi sosialnya.

A.I. Tipe-Tipe Kepribadian

Pada dasarnya setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lain. Penelitian tentang kepribadian manusia dilakukan para ahli sejak dulu kala. Kita mengenal Hippocrates dan Galenus yang mengemukakan bahwa manusia bisa dibagi menjadi empat golongan menurut keadaan zat cair yang ada dalam tubuhnya.

  1. Melancholicus (melankolisi), yaitu orang-orang yang banyak empedu hitamnya, sehingga orang-orang dengan tipe ini selalu bersikap murung atau muram, pesimistis dan selalu menaruh rasa curiga.
  2. Sanguinicus (sanguinisi), yakni orang-orang yang banyak darahnya, sehingga orang-orang tipe ini selalu menunjukkan wajah berseri-seri, periang atau selalu gembira, dan bersikap optimistis.
  3. Flegmaticus (flegmatisi), yaitu orang-orang yang banyak lendirnya. Orang-orang seperti ini sifatnya lamban dan pemalas, wajahnya selalu pucat, pesimis, pembawaannya tenang, pendiriannya tidak mudah berubah.
  4. Cholericus (kolerisi), yakni yang banyak empedu kuningnya. Orang bertipe ini bertubuh besar dan kuat, namun penaik darah dan sukar mengendalikan diri, sifatnya garang dan agresif.

A.II. Faktor – faktor yang mempengaruhi kepribadian :

1. Faktor genetik

Dari beberapa penelitian bayi-bayi baru lahir mempunyai temperamen yang berbeda, Perbedaan ini lebih jelas terlihat pada usia 3 bulan. Perbedaan meliputi: tingkat aktivitas, rentang atensi, adaptabilitas pada perubahan lingkungan Sedangkan menurut hasil riset tahun 2007 Kazuo Murakami di Jepang menunjukan bahwa gen Dorman bisa distimulasi dan diaktivasi pada diri seseorang dalam bentuk potensi baik dan potensi buruk.

2. Faktor lingkungan

Perlekatan (attachment): kecenderungan bayi untuk mencari kedekatan dengan pengasuhnya dan untuk merasa lebih aman dengan kehadiran pengasuhnya dapat mempengaruhi kepribadian. Teori perlekatan (Jhon Bowlby) menunjukkan : kegagalan anak membentuk perlekatan yang kuat dengan satu orang atau lebih dalam tahun pertama kehidupan berhubungan dengan ketidakmampuan membentuk hubungan dengan orang lain pada masa dewasa (Bowlby , 1973).

3. Faktor stimulasi gen dan cara berpikir

Berdasarkan penelitian akhir 2007, yang dilakukan oleh Kazuo Murakami, Ph.D dari Jepang dalam bukunya The Divine message of the DNA. Menyimpulkan bahwa kepribadian sepenuhnya dikendalikan oleh gen yang ada dalam sel tubuh manusia. Gen tersebut ada yang bersipat Dorman (tidur) atau tidak aktip dan yang bersipat aktip. Bila kita sering menyalakan gen yang tidur dengan cara positif thinking maka kepribadian dan nasib kita akan lebih baik. Jadi genetik bukan sesuatu yang kaku, permanen dan tidak dapat dirubah. Setiap orang yang diciptakan Tuhan sudah dilengkapi dengan kepribadian. Kepribadian itu sebetulnya adalah sumbangsih atau pemberian Tuhan ditambah dengan pengaruh lingkungan yang kita terima atau kita alami pada masa pertumbuhan kita.

B. Interaksi Sosial

Interaksi terjadi jika satu individu melakukan tindakan, sehingga menimbulkan reaksi pada individu-individu yang lain. Karena itu interaksi terjadi dalam kehidupan sosial. Dengan kata lain interaksi dapat diartikan hubungan timbal balik atau saling mempengaruhi diantara gejala aneka kehidupan yang dilakukan oleh manusia. Interaksi sosial merupakan sarana atau alat dalam mencapai kehidupan sosial. Adanya interaksi sosial merupakan naluri manusia yang sejak lahir membutuhkan pergaulan dengan sesamanya(gregoriousness).

Proses Interaksi sosial menurut Herbert Blumer adalah pada saat manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dimiliki sesuatu tersebut bagi manusia. Kemudian makna yang dimiliki sesuatu itu berasal dari interaksi antara seseorang dengan sesamanya. Dan terakhir adalah Makna tidak bersifat tetap namun dapat dirubah, perubahan terhadap makna dapat terjadi melalui proses penafsiran yang dilakukan orang ketika menjumpai sesuatu. Proses tersebut disebut juga dengan interpretative process

Faktor yang mendasari terjadinya interaksi sosial meliputi imitasi, sugesti, identifikasi, indenifikasi, simpati dan empati Imitasi adalah interaksi sosial yang didasari oleh faktor meniru orang lain. Contoh anak gadis yang meniru menggunakan jilbab sebagaimana ibunya memakai. Sugesti adalah interaksi sosial yang didasari oleh adanya pengaruh. Biasa terjadi dari yang tua ke yang muda, dokter ke pasien, guru ke murid atau yang kuat ke yang lemah. Atau bisa juga dipengaruhi karena iklan.

Indentifikasi adalah interaksi sosial yang didasari oleh faktor adanya individu yang mengindentikkan (menyadi sama) dengan pihak yang lain. Contoh menyamakan kebiasaan pemain sepakbola idolanya.  Simpati adalah interaksi sosial yang didasari oleh foktor rasa tertarik atau kagum pada orang lain.

Empati adalah interaksi sosial yang disasari oleh faktor dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, lebih dari simpati. Contoh tindakan membantu korban bencana alam. Interaksi sosial mensyaratkan adanya kontak sosial dan komunikasi sosial. Kemudian membuat terjadinya proses sosial. Proses sosial dapat bersifat asosiatif dan disasosiatif.  Asosiatif meliputi akomodasi, difusi, asimilasi, akulturasi, kooperasi (kerjasama) (Intinya interaksi social yang baik-baik, kerjasama, rukun, harmonis, serasi dll). Contoh kerja sama antara depertemen pendidikan nasional dengan PT Telkom dalam program Hardiknas.

Disasosiatif meliputi konflik, kontravensi dan kompetensi (Intinya interaksi sosial yang tidak baik, penuh persaingan, perang dingin, bertengkar dll). Contoh Bapak memukul anaknya karena tidak mendengarkan nasihatnya. Menyuruh pergi seorang pengemis dengan cara membentak.

B.I. Macam Macam Interaksi Sosial

a. Interaksi antara individu dan individu

Dalam interaksi itu individu yang satu memberikan pengaruh, rangsangan, atau stimulus kepada individu lainnya. Sebaliknya, individu yang terkena pengaruh itu akan memberikan reaksi, tanggapan, atau respons. Wujud interaksinya dapat berupa kerlingan mata, jabat tangan, saling menyapa, bercakap-cakap, atau mungkin bertengkar, interaksi social dapat terjadi tanpa berbincang-bincang, misalnya, orang yang sedang marah, tidak menyapa terhadap temannya, saling berdiam diri atau orang yang bertingkah aneh yang mengundang perhatian orang banyak.

b. Interaksi antara individu dan kelompok

Dalam interaksi itu seorang individu berinteraksi sosial dengan kelompok. Contohnya, seorang ketua kelas yang sedang memberlkan penjelasan di depan teman-temannya mengenai pembagian tugas piket kelas, atau seorang mahasiswa praktek kerja lapangan (PKL) yang sedang mengajar didepan kelas. Interaksi antara kelompok dan kelompok Dalam interaksi ini kepentingan individu-individu dalam kelompok merupakan satu kesatuan, dan berhubungan dengan kepentingan individu-individu dalam kelompok lain. Contohnya, kelompok dasawisma dalam suatu RT mengundang dasawisma kelompok lain dalam rangka syukuran atas kemenangannya pada lomba simulasi P-4. Ciri-ciri Interaksi Sosial

B.II. Ciri-ciri Interaksi sosial ada empat macam:

a. Pelakunya lebih dari satu orang.

b. Ada komunikasi di antara pelaku melalui kontak sosial.

c. Mempunyai maksud atau tujuan yang jelas terlepas dari sama atau tidaknya tujuan tersebut dengan yang diperkirakan oleh pelakunya.

d. Ada dimensi waktu (masa lampau, masa kini, dan masa mendatang) yang akan menentukan sikap aksi yang sedang berlangsung.

BIII. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial

a. Proses-proses social yang asosiatif

Artinya adalah proses-proses social yang mengarah pada kesatuan yang terwujud dalam bentuk sebagai berikut.

1) Kerja sama (cooperation)

Ada empat bentuk kerja sama, yaitu sebagai berikut.

- Tawar menawar(bargaining) adalah pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa antara dua organisasi atau lebih.

- Kooptasi(cooptation) adalah suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam organisasi sebagai salah satu cara untuk menghundari kegoncangan dalam organisasi.

- Koalisasi(coalitation) adalah kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama.

- Joint Venture adalah kerja sama dalam mengusahakan proyek-proyek tertentu.

2) Akomodasi (accomodation)

Akomodasi yaitu cara untuk menyelesaikan pertentengan tanpa menghancurkan pihak lawan. Akomodasi sebagai suatu proses mempunyai beberapa bentuk, sebagai berikut :

- Koersi (coertion) yaitu bentuk akomodasi yang prosesnya terjadi karena adanya paksaan dari pihak yang lebih kuat.

- Kompromi yaitu bentuk akomodasi di mana pihak-pihak yang terlibatn masing-masing mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaiannya.

- Arbitrase yaitu penyelesaian pertentangan oleh pihak ketiga yang dipilah oleh kedua belah pihak.

- Mediasi yaitu hampir sama dengan arbitrase tetapi pihak ketiga netral, hanya sebagai penasihat.

- Konsiliasi yaitu suatu usaha mempertemukan pihak-pihak yang berselisih bagi tercapainya persetujuan bersama.

- Toleransi yaitu suatu usaha untuk menghindarkan diri dari perselisihan dengan membiarkan atau menghormati pihak lain yang mempunyai pandangan yang berbeda.

- Stalemate yaitu suatu bentuk akomodasi di mana pihak-pihak yang bertentangan mempunyai kekuatan yang seimbang sehingga berhenti pada titik tertentu tanpa bias maju ataupun mundur.

- Adjudikasi yaitu suatu penyelesaian perkara melalui pengadilan.

3) Asimilasi (asimilation)

Asimilasi yaitu suatu proses yang ditandai oleh adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia.

Proses asimilasi dapat terjadi apabila:

a) Ada kelompok-kelompok yang berbeda budayanya.

b) Saling bergaul langsung dan intensif untuk waktu yang lama.

c) Kebudayaan dari kelompok-kelompok tersebut masing-masing berubah dan saling menyesuaikan diri.

BAB III

PEMBAHASAN

A. MEMBENTUK KEPRIBADIAN MELALUI INTERAKSI SOSIAL

Apa yang didapatkan dari lingkungan sosialnya menjadi modal utama bagi pembentukan kepribadiannya kelak. Dalam hal ini, bagaimana pengaaruh lingkungan keluarga, masyarakt dan kebudayaan.

Pembentukan kepribadian seseorang merupakan hasil perpaduan dari berbagai faktor yang saling terkait satu dengan yang lainnya, dengan berbagai proses pendukungnya. Salah satu faktor yang memegang peranan penting di dalam hal ini adalah interaksi sosial. Karena pada dasarnya manusia selama hidupnya mengalami interaksi sosial, yang memungkinkan manusia yang bersangkutan berkembang. Lalu apakah sesungguhnya yang diseut dengan interaksi sosial.

W.A. Gerungan merumuskannya sebagai suatu hubungan antara dua atau lebih individu. Dimana pribadi individu mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki prilaku individu yang laian, atau sebaliknya. (W.A. Gerungan, Psikolgi Sosial, 1978). Dengan pengertian tersebut, akan memudahkan kita untuk memahami pembahasannya lebih lanjut.

Jika ditelusuri sejarah kehidupan seseorang, akan semakin nyatalah peranan interaksi sosial di dalam rangkan pembentukan kepribadiannya. Sifat-sifat kemanusiaan manusiapun terbentuk melalui interaksi sosial. Karena di dalamnya terkandung unsur-unsur manusiawi dengan lingkungan manusiawi. Proses berlangsung kait-mengait, dengan tahapan-tahapan sistematis.

B. PEOSES MEMBENTUK KEPRIBADIAN MELALUI INTERAKSI SOSIAL

Prosesnya bermula dari lingkungan keluarga, yang berlanjut di dalam kehidupan sosial kemasyarakatan maupun di dalam lingkungan pergaulan yang lebih luas.

Untuk memperjelas bagaimana sesungguhnya kepribadian individu, akan dijelaskan secara terperincibagaimana proses berlangsungnya.

1. Interaksi Sosial di dalam Keluarga

Keluarga merupakan basis pertama dan utama dalam berbagai rangkaian proses interaksi sosial yang dialami individu selama hidupnya. Hal tersebut dimungkinkan, karena kedudukan keluarga sebagai komponen terkecil dari struktur masyarakat, merupakan tempat pertama bagi individu mengenal manusia lain diluar dirinya. Di samping itu juga di dalam keluargalah anak mulai mengenal peranan dirinya sebagai manusia.

Proses terjadinya interaksi sosial di dalam lingkungan keluarga dimulai sejak kelahiran. Saat anak mulai merasakan dunia lain dari dunia kandungan yang selama ini dikenalnya sebelum kelahiran. Sedangkan kelahiran itu sendiri merupakan prasyarat bagi seseorang untuk berkembang dan memiliki kepribadian sendiri.

Pada tahapan pertama, apa yang diberikan oleh keluarga merupakan potensi-potensi atau kemungkinan-kemungkinan untuk berkembang. Pada perkembangan lebih lanjut hal tersebut menadapatkan rangsangan dan pengarahan dari lingkungan keluarganya sehingga lebih berkembang.

Agar perkembangan yang dicapai dapat berjalan dengan normal dan ideal, peranan keluarga sebagai suatu lingkungan keluarga yang menyediakan segala sarana yang memungkinkan terjadinya perkembangan sangat menentukan.

Peranan keluarga yang dimaksud dalam hal ini, tidak hanya menyangkut pemenuhan segala kebutuhan anak yang berwujud materi, tetapi juga menyangkut pemenuhan kebutuhan psikologis dan sosiaologis. Bahkan dua kebutuhan tersebut seharusnya mendapatkan porsi yang lebih besar. Karena mengingat pengaruhnya yang cukup besar pada perkembangan selanjutnya yang dialami anak pada masa-masa mendatang.

Kebutuhan-kebutuhan psikologis dan sosiologis anak meliputi penghayatan-penghayatan rohani psikis dan sosial yang dialami anak sebagai suasana, sikap pergaulan, antara manusia yang mengikat anak didalam keluarganya, yang kemudian menjadi dasar untuk pergaulannya dengan masyarakat sosial yang lebih luas. Wujud yang nyata dari hal itu dibnerikan dalam bentuk kasih sayang yang memberi anak rasa nyaman., rasa diterima serta rasa diakui keberadaanya. Dengan demikian interakasi sosial yang pertama kali dirasakan anak adalah perlakuan dan kasih sayang dari kedua orang tuanya, terutama dari ibunya. Pada saat anak sepenuhnya tergantung dari kedua orang tuanya untuk memenuhi segala kebutuhannya, baik yang berupa fisik ataupun psikis.

Dengan semakin bertambahnya usia anak yang diikuti oleh berfungsinya organ-organ tertentu dari tubuhnya, nteraksi sosial yang dialami anak semakin berkembang. Anak sudah dapat melakukan komunikasi dengan orangtuanya, meskipun masih dalam bentuk-bentuk yang sangat sederhana dan bersifat simbolik. Jawaban-jawaban yang diberikan yang diberikan orang tuanya sebagai pengertian terhadap komunikasi simbolik anak, akan dirasakan sebagai suatu interaksi sosial, sehingga dengan jawaban-jawaban tersebut anak akan menentukan sikap yang dianggap sesuai dengan jawaban orang tuanya.

Dengan berfungsinya organ-organ bicara pada anak, komunikasi dengan orang tuanya berkembang dengan penggunaan bahasa, sehingga interaksi sosialpun semakin menampakkan bentuk yang nyata. Anak telah mampu mengungkapkan perasaan yang sebenarnya kepada orangtuanya dan sebaliknya orang tuapun dapat mengerti secara benar perasaan anak. Dalam situasi yang demikian kemungkinan terjadinya hubungan saling pengaruh mempengaruhi antara orang tua dan anak sangat besar.

Setelah anak mampu menggunakan kognisinya yang didukung dengan berfungsinya secara sempurna keseluruhan inderanya, anak mulai mengerti wujud yang sebenarnya dari pola-pola interaksi sosial yang berlaku didalam keluarganya.

Pengertian anak didalam hal ini, terutama didasarkan paa pengalaman-pengalamannya dengan kedua orang tuanya. Karena itulah keharmonisan hubungan antara suami dan istri sangat diperlukan, sehingga hal itu memberikan suatu gambaran yang baik kepada anak. Keduanya harus mempunyai keseragaman didalam cara dan tekhnik-tekhnik melaksanakan hubungan dengan anak. Hal itu didasarkan pada suatu kenyataan bahwa untuk perkembangan kepribadiannya, anak memerlukan kedua orangtuanya sebagai pembimbing, pendidik serta sebagai pengayon.

Adalah satu faktor yang menentukan terjadinya interaksi sosial adalah faktor identiikasi, khususnya didalam rangka pembentukan ego dan superego anak. Timbulnya identifikasi tersebut didasarkan pada suatu rasa kagum anak terhadap perbuatan orang tuanya bahkan menyamainya. Disamping itu juga timbulnya identifikasi disebabkan usaha anak untuk menghindari hukuman-hukuman yang mungkin diberikan oleh orang tuanya, sehingga anak berusaha mempersatukan dirinya dengan larangan-larangan yang ditentukan oleh orang tuanya. Dengan demikian identifikasi dapat dijadikan alasan mengapa anak-anak cenderung menyerupai orang tua mereka.

Jika keluarga dianggap sebagai suatu lingkungan, masyarakat yang kecil, maka peranannya di dalam rangka pembentukan ego sangat menentukan. Jika mengingat bahwa ego merupakan hasil dari tindakan saling mempengaruhi antara lingkungan dengan garis-garis perkembangan yang ditetapkan oleh keturunan. Begitupun di dalam rangka pembentukan superego anak, keluarga memegang peranan yang menentukan. Bahkan dalam dalam rangkan pembentukan superego inilah keluarga sangat menonjol.

Superego merupakan kode moral seseorang yang berkembang dari ego, sebagai akibat perpaduan yang dialami anak dengan ukuran orang tuanya mengenai apa yang baikl, apa yang salah, serta apa yang buruk. Dengan memperpadukan kewibawaan tersebut dengan kewibawaan moril orang tuanya, anak akan mengganti kewibawaan tersebut dengan kewibawaannya sendiri.

Dengan menuangkan kekuasaan orang tuanya ke dalam batinnya sendiri, anak akan dapat menguasai kelakuannya sesuai dengan keinginan orang tuanya, dan dengan bertindak seperti itu anak akan mendapatkan persetujuan dan mencegah kegusaran mereka.

Atau dengan kata lain, anak akan belajar bahwa ia bukan saja harus tunduk kepada prinsip kenyataan untuk mendapatkan kesenangan, tetapi ia juga harus mencoba berkelakuan sesuai dengan perintah-perintah moril dari kedua orangtuanya.

2. Interaksi Sosial di dalam Lingkungan Kemasyarakatan

Apa yang didapatkan anak dari lingkungan keluarganya sebagai dasar-dasar untuk menjalani interaksi sosial yang lebih kompleks di dalam lingkungan masyarakatnya.

Dengan semakin banyaknya manusia yang dikenal anak, menyebabkan pergaulan anak semakin meluas. Akibatnya apa yang diberikan oleh keluarganya sebagai dasar tersebut juga akan lebih berkembang, sehingga hal itu akan lebih menyempurnakan interaksi sosialnya.

Anak akan lebih banyak belajar untuk menyesuaikan diri dengan keragaman prilaku yang ditemuinya didalam lingkungan masyarakatnya. Dimana dari penyesuaian diri tersebut, anak mendaptkan pengalaman-pengalaman baru yang menjadi masukan-masukan yang sanagt berharga bagi anak untuk pengemangan kepribadian lebih lanjut. Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi dorongan bagi anak untuk lebih mengaktifkan diri menjalani interaksi sosialnya. Akhirnya pengalaman-pengalaman tersebut berubah menjadi simbol-simbol yang memiliki nilai tersendiri bagi anak.

Salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam interaksi sosial didalam lingkungan sosial kemasyarakatan ini adalah lembaga-lembaga sosial tersebut berperan sebagai suatu respon kulturil dari kebutuhan dasar biologis dan psikologis manusia untuk hidup berkelompok. Juga sekaligus berfungsi sebagai alat untuk mengembangkandiri dan alat yang memberikan batas-batas tertentu, agar segala jenis hubungan antar manusia dipelihara dalam keadaan equilibirium yang dinamis.

Disamping itu juga faktor waktu memegang peranan menentukan. Lamanya individu menjalani inteaksi sosialnya, memberikan kesempatan kepada individu untuk bekerjasama dan menemukan pola-pola tingkah laku dan sikap yang bersifat timbal balik, serta menemukan teknik-teknik hidup bersama yang lebih baik.

Akibat lebih lanjut terbentuklah integrasi psikologik dan sosiologik di dalam masarakat yang menyebabkan pola, sikap, relasi serta reaksi emosi dari anggota masyarakat cenderung memiliki kesamaan.

Kenampakan dari integrasi tersebut akan terlihat sebagai kesamaan-kesamaan kepribadian dari segenap individu yang hidup di dalam lingkungan sosial kemasyarakatan tertentu.

3. Pengaruh Kebudayaan Terhadap Interaksi Sosial

Proses terjadinya interaksi sosial, baik didalam lingkungan keluarga maupun di dalam lingkungan sosial kemasyarakatan yang lebih luas, tidak dapat dilepaskan dari pola kebudayaan yang berlaku didalam masyarakat tersebut. Karena lingkungan sosial dan kulturil menetapkan syarat-syarat bagi individu dalam menetapkan bentuk pemuasan kebutuhan yang mungkin dipilih oleh indiidu, termasuk didalamnya interaksi sosial.

Hal tersebut sangat mempengaruhi mekanisme kerja dari ego sebagai pembuat keputusan. Ego berkewajiban menetapkan bentuk tingkah laku penyesuaian sebaik-baiknya dan sesuai dengan pola-pola kebudayaan yang berlaku, sehingga apa yang diputuskan sebagai pemuasan kebutuhan akan baik baginya dan juga bagi lingkungan masyarakatnya yang lebih luas. Atau dengan perkataan lain, kebudayaan mengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat, serta menentukan sikap jika berhubungan dengan orang lain. Karena keduanya sebenarnya merupakan perwujudan atau abstraksi dari pada prilaku manusia dengan kepribadian sebagai latar belakangnya.

BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pembentukan kepribadian seseorang merupakan hasil perpaduan dari berbagai faktor yang saling terkait satu dengan yang lainnya, dengan berbagai proses pendukungnya. Salah satu faktor yang memegang peranan penting di dalam hal ini adalah interaksi sosial. Karena pada dasarnya manusia selama hidupnya mengalami interaksi sosial, yang memungkinkan manusia yang bersangkutan berkembang.

B. SARAN

Dengan mengerti bagaimana proses serta pengaruh yang nyata dari interaksi sosial terhadap pembentukan kepribadian seseorang, diharapkan kita dapat mengerti kepriadian individu secara tepat dengan segala keunikannya. Sehingga dengan demikian diharapkan kita dapat menentukan sikap yang sesuai dengan kepribadian seseorang. Hal mana akan menentukan keberhasilan kita didalam berkomunikasi dengan individu lain sesama.

DAFTAR PUSTAKA

http://bumikupijak.com dPrince Of Smart

Tipe Kepribadian Manusia, oleh: . Zainuddin sri kuntjoro, MPSi., Jakarta, 9 april 2002 http://www.e-psikologi.com/usia/090402.htm.

Golongan Kepribadian, http://www.telaga.org/ringkasan.php?kepribadian.htm. Definition: personality http://dict.die.net/personalit.

Sarwono, Sarlito Wirawan, Dr. 2000. Pengantar Umum Psikologi. Jakarta: PT Bulan Bintang.

BERIKUT MAKALAH YANG DAPAT KITA DOWNLOAD KARENA PENTING UNTUK MAHASISWA BARU…

klik dsni

Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kalian semua yang membutuhkan.ok..

About these ads

4 responses to “CHARACTER BUILDING MEMBENTUK KEPRIBADIAN MELALUI INTERAKSI SOSIAL

  1. Pingback: 2010 in review | Furqon And kiyara it's Blog

  2. klo bikin yang bnr mas . . .jadi g kebaca . . sayang bngt kan . . . . .

  3. salam sobb…
    wah kebetulan bgt nih q smster 2 da MK cabul jadi lebih taw apa itu character building ntu.
    tapi gan maf yeh w baca blog ini dikit puyeng terlalu kontras bgt background ama tulisan’e jadi kurang jelas…..it’s ok…
    boleh tanya gg, w kasih taw donk cara bikin wordpress terutama bikin domain n upload’e, bagi ilmunye yeh…..thanks…

  4. Oalah punya blog juga mase, tak copy ya mas (monggoh lan) :p
    Oke makasih :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s